Tidak Hanya Keindahan Tempat Wisata, Tradisi Khas Ini Jadi Daya Tarik Wisata di Bali

Bali sebagai tempat wisata yang banyak dikunjungi menyimpan banyak daya tarik yang menjadi magnet bagi para wisatawan. Bali menyimpan keindahan alam serta tradisi yang dilestarikan oleh warganya. Masyarakatnya tidak meninggalkan kebudayaan aslinya walaupun banyak warga asing yang datang dengan latar belakang yang berbeda. Berikut ini bermacam tradisi yang masih ada dalam masyarakat Bali.

Tradisi Unik Bali yang Menarik Banyak Wisatawan

Ngayah

Warga Bali sangat menghargai kehidupan bersosial. Tradisi Ngayah yang berupa kegiatan gotong royong, sudah menjadi kebiasaan masyarakat Bali. Tradisi ini dapat dilakukan setiap kali ada acara bersama atau ketika ada warga yang membutuhkan bantuan saat akan mengadakan acara tertentu. Kegiatan gotong royong dilakukan untuk menjalin rasa persaudaraan serta menjaga rasa peduli pada sesama.

Makepung

Acara pacuan kerbau ini diadakan di Jembrana. Acara dilakukan setiap tahun saat panen besar tiba. Kerbau di pacu oleh seorang joki. Agar larinya cepat kerbau di pecut menggunakan cambuk. Pacuan kerbau ini membutuhkan keberanian yang besar. Sebab, kerbau bisa lari tak terarah bila tidak dikendalikan dengan baik. Keseimbangan juga perlu di jaga agar tidak terjatuh.

Mesyusak

Acara penghormatan leluhur dilakukan pad perayaan kuningan. Perayaan ini diselenggarakan beberapa hari setelah perayaan galungan. Perayaan ini dilakukan di Kecamatan Tabanan. Arti kata Mesyusak adalah sorakan atau teriakan.

Pada perayaan ini warga akan melempar uang ke udara, kemudian berbondong-bondong mengambilnya. Jumlah uang yang dilempar berbeda-beda bergantung perekonomian tiap orang. Perayaan ini dilakukan sebagai penyambutan dan penghormatan pada leluhur yang akan datang pada perayaan galungan.

Hari Raya Nyepi

Hari raya Nyepi jelas tidak asing di kalangan wisatawan. Hari raya ini mengharuskan warga Bali untuk berada di rumah. Mereka dilarang bersenang-senang dan diwajibkan untuk merenungkan kesalahan serta beribadah di rumah masing-masing. Perayaan ini bertujuan untuk melakukan pembersihan diri baik hati maupun pikiran. Sehingga lebih dapat mendekatkan diri pada Tuhan.

Nyakang Diwang

Kegiatan ini dilakukan setelah perayaan nyepi. Warga Desa Pakraman di Kabupaten Buleleng akan melakukan masak bersama di luar rumah. Setiap warga akan berkumpul dan memasak dengan tujuan melakukan penyucian lingkungan sekitar dan dapur. Acara ini juga menjadi sarana untuk saling bersosialisasi dan mempererat hubungan.

Pawai Onggoh-Onggoh

Acara ini diadakan beberapa waktu sebelum perayaan nyepi. Warga Bali akan membuat raksasa besar yang akan di arak pada malam hari. Masyarakat Bali percaya bawa arakan raksasa yang menyeramkan tersebut dapat mengusir hal buruk.

Mekare-Kare

Acara ini merupakan kegiatan berperang dengan menggunakan pandan berduri. Para peserta akan saling menyabitkan pandan berduri ke arah lawan. Sabetan daun pandan membuat para peserta mengalami luka gores di sekujur tubuh. Perayaan ini dilakukan pada bulan September. Acara ini menjadi bentuk penghormatan atas kemenangan dewa indera saat berperang melawan raja jahat yang menguasai Bali

Mekotek

Tradisi ini dilakukan pada perayaan Kuningan. Asal muasal tradisi ini diawali saat warga melakukan penyambutan kemenangan Kerajaan Mengwi atas Kerajaan Blambangan. Pada waktu itu warga menyambut pasukan dengan tombak, kini diganti dengan menggunakan kayu. Dahulu tradisi ini pernah dilarang pada masa kekuasaan belanda, akan tetapi terjadi bencana pada desa. Kemudian tradisi ini dibangkitkan kembali.

Gebug Ende

Tradisi ini dapat ditemukan di Karangasem. Ini merupakan upacara adu ketangkasan para pria. Para pria akan adu pukul dengan menggunakan tongkat yang terbuat dari rotan. Selama adu ketangkasan akan ada iringan gamelan Bali yang menambah semangat pemainnya.

Gerakan para pemain merupakan suatu perpaduan antara seni tari dengan keterampilan bela diri. Acara ini digelar untuk meminta hujan di musim kemarau. Namun, terkadang acara ini juga diselenggarakan sebagai atraksi kebudayaan.

Ngerebog

Acara ini merupakan tradisi Desa Kesiman. Ketika acara diadakan akan ada warga yang menjadi penghantar roh, mereka akan kesurupan dan menancapkan keris ke badan mereka tanpa terluka. Tradisi ini diadakan tiap 6 bulan sekali. Tepatnya 8 hari setelah perayaan Kuningan. Pada waktu tersebut pada dewa akan berdatangan, peserta yang kerasukan roh dewa akan menangis, berteriak, menari, dan lainnya.

Ngaben

Tradisi pemakaman ini dilakukan hampir oleh semua warga Bali yang beragama Hindu. Upacara pemakaman ini dilakukan dengan membakar jenazah. Pembakaran dilakukan beberapa saat setelah meninggal atau dilakukan penguburan dahulu untuk mencari hari baik untuk pembakaran. Proses upacara pembakaran merupakan bentuk simbolis dari penyucian.

Mesabatan Endut

Arti dari kata tersebut adalah melempar lumpur. Dalam tradisi ini lumpur yang digunakan dicampur dengan kotoran kerbau. Tradisi ini dilakukan oleh muda mudi di Karangasem tepatnya di Desa Tenganan. Pelempar adalah pemuda yang akan menikahi gadis dari desa tersebut. Lumpur dilemparkan ke para gadis dengan maksud membuat para gadis menjadi sabar, tidak jijikkan, dan tidak mudah gengsi.

Tradisi Bali penuh dengan keunikan yang membuat wisatawan terus tertarik berdatangan. Bali masih menjaga tradisi hingga kini dan tidak mudah terpengaruh budaya asing. Beberapa tradisi Bali yang unik diantaranya Ngaben, Mesabatan Endut, Ngerebog, Gebung Ende, dan masih banyak tradisi lainnya. Setiap tradisi yang dilakukan mempunyai tujuan tertentu.

Click to rate this post!
(2 suara)

1 thought on “Tidak Hanya Keindahan Tempat Wisata, Tradisi Khas Ini Jadi Daya Tarik Wisata di Bali”

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.